Market challenger become follower

Perkembangan dunia telekomunikasi Indonesia selama 3-5 tahun ini berkembang cukup pesat ditandai dengan makin banyaknya operator baru penyedia layanan telekomunikasi bermunculan. Indonesia yang populasi penduduknya sekita 220 juta jiwa adalah target pasar yang gurih bagi operator tadi. Apalagi sekarang pelanggan telekomunikasi baru sekitar 110 juta atau masih 50-55%, itupun banyak diantara mereka adalah double subscriber. Dengan bermunculan operator baru, maka penetrasi telekomunikasi ke pasar Indonesia makin dalam. Yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan menengah ke atas, sekarang menengah ke bawahpun dalam berhape ria. Dulu untuk membeli starterpack(nomor) saja dibutuhkan uang 200 ribu, sekarang 249 ribu sudah dapat nomor dan handphone sekalian.
Sekarang kita coba melihat operator incumbent, operator-operator telekomunikasi yang sudah dewasa dan matang dalam mengarungi persaingan pasar. Di situ ada telkomsel, market leader yang sukses mempertahankan posisinya hingga saat ini. Eric Meyer, sang sutradara marketing telkomsel mampu membawa bendera telkomsel tetap berkibar di atas sampai sekarang. Meskipun ada beberapa pengamat yang mengatakan bahwa sentuhan marketing yang maknyuss dari telkomsel sudah mulai pudar seiring dengan pindahnya sang sutradara ke bakrie telekom. Salah satu keunggulan dari telkomsel sampai saat ini adalah coverage atau daerah cakupan. Di mana sampai detik ini belum ada yang dapat menyaingi jumlah bts yang mencapai 14.000 buah di seluruh nusantara. Oleh karena itu, telkomsel cukup cool menyikapi perang tarif yang berkembang akhir-akhir ini. Karena kalau saya perhatikan strategi mereka bukan lagi mendapatkan pelanggan baru tetapi mempertahankan loyalitas pelanggan lama.

Di belakang telkomsel, ada penantang, operator besar sebagai penyeimbang yang mempunyai reputasi sangat bagus. Dengan jumlah subscriber 1/2 dari subscriber telkomsel membawa indosat memperoleh laba hingga 2 triliun di tahun 2007. Meskipun coverage indosat masih belum dapat menyamai telkomsel namun indosat terus berusaha memperluas dan memperbaiki kualitas signalnya bahkan slogan marketing menyebutkan “signal kuat indosat” di awal tahun 2007. Didukung oleh anggaran modal yang besar, membuat teknologi indosat terus up to date. Beberapa waktu yang lalu saya membaca ulasan di koran tempo bahwa 3.5 G indosat cukup stabil dibandingkan operator lainnya meskipun masih ada blankspot di beberapa titik di Jakarta.

Ada excelcomindo, operator yang sebagian sahamnya dikuasai oleh telecom malaysia ini menguntit dibelakang 2 operator besar dari sisi subscriber dan profit. Gerakan agresif excel untuk mendapatkan subscriber baru cukup efektif membuat operator ini memiliki 15.5 juta subscriber di akhir tahun 2007 lalu. Apalagi punggawa indosat yaitu Hasnul Suhaimi berganti bendera dengan menjadi komando di exelcom. Kalau operator di atasnya tidak menghiraukan, bukan tidak mungkin bendera excel akan berkibar lebih tinggi.

Beberapa bulan terakhir promosi tarif Rp. 1/detik oleh excelcom membuat dunia telekomunikasi seluler indonesia bergejolak. Genderang perang tarif dimulai. Telkomsel membalas dengan tarif Rp. 0.5/detik, lalu excel membuat tarifnya menjadi Rp. 0.1/detik. Indosat coba memanaskan perang dengan menawarkan tarif Rp. 0.01/detik. Kemudian berkembang pertarungan tarif antara indosat dan excel sampai 0.000000…1 dan kawin ama kambing. Luar biasa !!! Namun saya mencermati, posisi indosat dari perang tarif itu menjadi seperti follower tarif excel. Coba kita diperhatikan, indosat menawarkan tarif 0.01 karena mengikuti excel yang lebih dulu 0.1. Sekarang excel menawarkan Rp. 600 ke seluler manapun di ikuti oleh indosat dengan Rp. 240.
Lalu posisi indosat sebagai market chalanger nya telkomsel menjadi bias bahkan cenderung followernya excelcom. Ada apakah ini? apakah ini akibat ketakutan berlebihan karena subscribernya beralih ke operator? Ataukah kebuntuan inovasi dan kreatifitas menghampiri para punggawa marketing di indosat sehingga melupakan “blue ocean strategy“. Saya berpendapat, seharusnya indosat maupun operator lain membawa diri untuk lebih sabar menyikapi persaingan ketat ini dan tetap menjaga kualitas agar tetap exist dan dibutuhkan pelanggan.
Perang tarif adalah gula yang sangat manis untuk pelanggan namun jika kualitas pelayanan tidak diperbaiki bahkan dikebiri seperti gula yang banyak semutnya. Manis namun tidak ada yang mau menyentuhnya.

Bravo telekomunikasi indonesia.

*Tulisan diatas adalah pendapat pribadi dan hanya untuk referensi pribadi bukan untuk promosi maupun doktrinisasi.

2 Comments

  1. biar murah mending memakai Handy Talky aja, dijamin gak bayar pulsa dan bisa bicara sepuasnya.

  2. bener juga sih…hehehehheheh


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment