“Sinau seng rajin yo le, ben pinter. Sesok dadi dokter“
“Rajin belajar ya nak, biar pintar. Suatu saat bisa menjadi dokter”
Pasti di masa kecil kita sering mendengar kata-kata tersebut. Dari perkataan di atas dapat dilihat bahwa di masa kecil kecerdasan intelegensia kita sudah dilatih sedemikian rupa (rajin belajar) sehingga dengan harapan suatu hari nanti kesuksesan (menjadi dokter) dapat dicapai. Namun disisi lain, ternyata ada kecerdasan lain yang jauh lebih penting guna menggapai kesuksesan, yaitu kecerdasaan emosional dan spiritual.
Waktu kecil dulu, saya pernah mengikuti tes IQ tatkala masih di sekolah dasar. Saat itu saya masih belum mengerti apa guna tes itu. Yang jelas setelah hasil tes itu dibagikan, teman-teman sering membanding-bandingkan hasilnya dan mengatakan kalau nilainya tinggi berarti cerdas kalau rendah berarti bodoh dan nantinya tidak bisa sukses. Doktrin seorang kawan itu masih saya ingat sampai sekarang. Tapi tentu saja doktrin subyektif dari seorang bocah kelas 4 SD (bisa dibayangkan khn kredibilitasnya).
Seiring dengan waktu, setelah membaca beberapa referensi, saya menyadari bahwa tes IQ yang pernah saya lakukan waktu itu adalah bertujuan untuk mengukur tingkat intelegensia. Pada IQ lebih menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Dalam beberapa penelitian terakhir disimpulkan bahwa IQ bahkan kecerdasan lain sebagian besar dipengaruhi oleh hasil belajar dan sisanya diperoleh dari garis keturunan kita.
Daniel Goleman, di pertengahan dekade 90 an pernah mempoluperkan EQ dan berpendapat bahwa kesuksesan hanya 20% dipengaruhi oleh IQ dan sebagian besar dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Emotional Quotient erat kaitannya dengan perasaan. Salah satu wujud dari kecerdasan emosional adalah aspek empati – kemampuan mengindera perasaan seseorang sebelum yang bersangkutan mengatakannya. Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, dan kecakapan sosial. Ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi antara lain misalnya kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi.
Beberapa tahun belakangan diperkenalkan lagi kecerdasan baru yaitu Spiritual Quotient oleh Danah Zohar. Kalau dengan IQ, kita bekerja dengan mengandalkan indera, kalau EQ kita bekerja dengan menggunakan perasaan sedangkan SQ kita bekerja dengan jiwa “pusat-diri”. Kecerdasan ini lebih pada menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan. Salah satu wujud dari kecerdasan spiritual ini adalah menyadari bahwa Tuhan ada disekeliling kita, Dia melihat kita dan kita merasakan kehadiran Dzat Yang Maha tersebut. Kita dapat melatih kecerdasan spiritual melalui puasa dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelombang otak dari Beta ke Alfa sehingga membuat kita lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Saat itu kita akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, dan mudah merasa terharu.
Kombinasi ketiga kecerdasan di atas dapat menuntun kita untuk meraih kesuksesan baik lahir maupun bathin.
* Tulisan diatas adalah pendapat pribadi yang diambil dari referensi di berbagai media massa
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment
