Seminggu terakhir bursa saham dunia rata-rata anjlok dalam dan cukup menakutkan seiring dengan krisis keuangan di perusahaan investasi besar AS, Bear Stearns. Ditambah dengan pelemahan nilai tukar USD dan harga minyak yang melonjak diatas level $110 per barel yang membuat beban dunia usaha semakin membengkak. Ada apa ini? Sebuah pertanyaan sebagian investor di pasar saham Indonesia. Saya sebagai pemula hanya bisa mengamati fenomena ekonomi ini dengan melihat referensi-referensi yang berkembang di media massa. Dampak krisis kredit yang beberapa bulan lalu menerpa Amerika memicu para investor untuk mencari alternatif investasi dengan beralih ke sektor komoditas. Sebuah permintaan naik sedangkan penawaran terbatas, maka harga bisa naik gila-gilaan. Itu terjadi tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada bahan baku bioenergi alternatif seperti minyak sawit, kedelai, jagung, dan gandum.
Seyogyanya pemerintah mesti waspada terhadap ancaman krisis pangan yang dapat terjadi beberapa tahun mendatang khususnya terhadap komoditas-komoditas bahan baku energi alternatif itu. Secepatkan mengimplementasikan swasembada pangan merupakan cara paling ampuh untuk dapat melewati krisis ini karena pasar dunia akan terus naik seiring dengan permintaan besar untuk dikonversikan ke dalam bioenergi. Saat ini saja kita sudah merasakan bagaimana pedihnya semi krisis pangan menghampiri Indonesia, kedelai adalah contohnya. Persediaan dalam negeri masih belum mencukupi sehingga harus mendatangkan dari luar negeri dengan harga pasar tentunya. Akibatnya sudah dapat dipastikan, harga kedelai melonjak hebat mengikuti harga pasar dunia yang fluktiatif. Dan sekarang minyak gorengpun digoyang isu yang sama. Kelangkaan !!!
Bioenergi menurut saya pribadi merupakan cara yang bagus untuk mengatasi krisis energi fosil dan mengurangi pemanasan global namun tentu dengan manajemen yang baik sehingga kebutuhan pokok manusia tidak terabaikan. Contohnya dengan memasyarakatkan penanaman pohon jarak pada ladang-ladang tandus yang tidak dipakai untuk pertanian. Memberikan insentif yang memadai untuk para petani guna menggiatkan produksi bahan pangan seperti padi, kedelai, jagung, gandum, tebu sehingga nantinya menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan sehingga kebutuhan pangan dunia khususnya masyarakat Indonesia sendiri tetap terjaga. Dan tentunya ada dukungan positif dari berbagai pihak baik swasta, LSM dan badan internasional.
Para peneliti sudah memberikan warning, tugas kita sekarang adalah mengantisipasi kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
*Tulisan diatas adalah pendapat pribadi setelah membaca referensi dariĀ berbagai media massa
2 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment

mas… kalau seandainya Indonesia beralih ke bioenergi dan pada akhirnya berkondisi sama seperti AS dimana para petaninya bergeser menanam pohon Jarak bagaimana?
bukankah itu akan menciptakan kelangkaan baru di dunia pangan?
Sesuai dengan apa yang saya utarakan diatas bahwa swasembada pangan merupakan cara cukup ampuh untuk menghadapi kemungkinan kelangkaan pangan akibat bio energi ini. Indonesia punya kesempatan dan fasilitas yang memadai untuk melakukan swasembada, yang belum mungkin manajemen dan kebijakan dari pemerintah yang masih angin-anginan. Tapi saya optimis kok, swasembada pangan di indonesia akan tercapai. Dan kalau indonesia sudah surplus, kita bisa membantu negara lain dengan melakukan export pangan ataupun men-convert-nya menjadi bio energi.