Profesionalisme adalah sebuah pilihan

Kata-kata profesional sering sekali kita dengar, membicarakan profesionalisme ini serasa tidak ada habisnya karena hal ini merupakan modal kita untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi. Dalam kata profesionalme mengandung penekanan arti pada sebuah sikap, budi pekerti, dan tingkah laku dan bukan pada suatu paket kemampuan teknis yang canggih. Jadi dengan bersikap profesional berarti kita bersikap sesuai dengan koridor hukum serta aturan yang berlaku dan tentunya didukung oleh kemampuan intelektual yang bagus.

Pernah saya mendengar suatu nasehat dalam sebuah talkshow di radio swasta Jakarta dimana IQ diperlukan untuk dapat diterima bekerja dalam suatu perusahaan. Dan EQ (Emotional Intelligent) dibutuhkan dalam cara kita bekerja dan berinteraksi dengan orang lain dalam perusahaan itu. Nah profesionalisme itu sendiri berkaitan erat dengan EQ. Contohnya ada seorang programmer yang berpengalaman dan sangat canggih dibidang software development. Aplikasi yang dia buat selalu sempurna dan dikerjakan dengan cepat waktu. Namun dia sering datang terlambat atau sering mangkir, bersikap acuh terhadap rekan kerja yang lain ataupun cara berpakaian dia yang kurang pantas saat berhadapan dengan client di perkantoran formal. Atau bahkan lebih ekstrem lagi tiba-tiba menghilang tatkala atasan sedang membutuhkan. Nah, disini dapat disimpulkan bahwa profesionalisme orang tersebut masih belum baik karena belum dapat menempatkan diri pada kondisi yang sesuai dengan aturan yang ada.

Atau ada kasus lain, ada seorang staff senior di salah satu MNC terbesar di Indonesia, dia tidak pernah terlambat, cuti sakit pun jarang dia ambil dan bahkan pernah mendapat predikat karyawan paling disiplin di perusahaan tersebut. Namun dalam keseharian, dia sering bermain game di jam kerja bahkan bisa seharian penuh. Alasan yang dia kemukakan sering kali mengatakan dia belum ada kerjaan, dan daripada nganggur. Namun tugas yang datang dari atasan sering terbengkalai akibat sering dianggap enteng dan ditunda-tunda. Atasannya seperti sudah kehabisan akal untuk memotivasi staff itu karena motivasi untuk berubah dalam diri dia sendiri tidak ada. Nah kita bisa bagaimana bentuk melihat ketidak-profesional-an staff itu. Kalau dia mau bersikap profesional, dia bisa mengisi waktu kosong itu dengan membantu pekerjaan rekannya satu bagian atau mengasah pengetahuan dia dengan belajar entah dari buku ataupun di internet. Karena saya pernah mendengar nasehat dari atasan saya bahwa profesionalisme seseorang dapat dilihat saat tekanan pekerjaan dia sedang rendah.

Namun apapun itu, profesionalisme adalah sebuah jalan yang dapat kita pilih. Jika kita bersikap profesional, maka harus ada pengendalian dalam diri kita sehingga kita menjadi seseorang yang mampu menapaki level kedewasaan yang lebih tinggi dan jika kita tidak bersikap profesional, maka konsekuensi pahit sewaktu-waktu mungkin akan menerpa kita.

Salam profesional.

*Tulisan ini adalah bentuk dari opini pribadi dan contoh kasus yang diambil sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan programmer ataupun staff senior.

1 Comment(s)

  1. klo di indonesia, profesionalisme nya terbukti dalam hal korupsi. Sapa yg bisa korupsi dan gak ketauan maka dia seorang profesional.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment