Apa kabar ?

Sepanjang hari ini, di sebuah minggu yang redup dan mendung, aku putar ulang semua peristiwa yang pernah kita alami bersama. Betapa banyak hal-hal kecil yang jadi begitu berarti. Ah, lagi-lagi rasa kangen. Ya, memang itu saja alasanku !

Rasa ini sudah memberiku energi yang begitu menggelora, dan dahsyat. Porak-poranda hati kemudian diterjangnya. Ada saat-saat dimana aku diguyur dengan rasa gembira dan rindu dendam yang memekarkan hati. Ada juga saat ketika aku diterkam rasa cemas, gelisah juga cemburu dan nafsu. Sementara itu ada pula ketika belati-belatinya menyayat tipis-tipis serat-serat paling halus perasaan. Kamu tahu? Ternyata aku justru bersyukur sempat mengalaminya, menangis karena rindu atau kecewa, terharu karena kebaikan dan rasa sayang yang tulus, gembira karena punya cinta yang bikin aku mabuk terhuyung-huyung. Entahlah, meski dengan campuran rasa cemas dan rasa bersalah, toh aku terus saja nekat ingin mendekapnya. Dan itu karena kamu.

Aku tak bermaksud apapun dengan surat ini. Aku hanya sekedar bercerita, bahwa jika kamu sebut aku pengecut, karena aku tak pernah menyesalkan apa yang pernah aku alami denganmu dan mengenangkannya seperti saat saat itu, aku tidak perduli. Aku ingin belajar memahami, bahwa kadang tusukan duri-duri cinta dengan cara seperti itu, menyakitkan, sekaligus bikin rindu ingin mengalaminya lagi. Aku tidak tahu, karena aku tak berpikir apapun ketika mengalaminya. Kita toh sudah bisa menebak apa yang mestinya terjadi. Terkadang dengan naifnya masih saja aku bisikkan ajakan dan angan-angan yang tinggi tentang kita, seperti pertemuan kita 5 tahun lagi… ya itu sangat naif bagiku. Dan pagar norma dan logika rasional, tak menggubrisnya.

Kadang-kadang Tuhan dengan jenaka dan bijaknya mengirim isyarat-isyarat yang sedikit saja aku pahami. Aku cuma menerka-nerka dan berharap bahwa kesabaran akan menuntunku ke arah pengertian yang lebih dalam tentang semua yang terjadi atasku. Memandang bintang-bintang di langit, menatap senyummu di benakku, aku mengukir poci hatiku dengan namamu dan semua yang pernah begitu mendebarkan bagiku. Aku rasa bukan semacam rindu yang telah basi, :) . Barangkali titrasi pada senyawa senyum dan bau parfummu.

Waktu itu sering yang terpikir dariku adalah “tetap berharap”, “raih hari ini”, “hidup adalah perubahan”. Barangkali sedikit sekuler, karena seolah hanya mendewakan hiruk pikuk sesaat. Tapi coba aku pahami dengan cara lain, bahwa hidup mengajarkan aku sesuatu dengan mengalaminya. Makin tinggi aku mendaki keindahannya, maka resiko terguling ke jurang nista makin besar dan menakutkan pula. Tapi karenanya aku belajar dan menjadi dewasa. Mungkin ada benarnya apa kata pepatah, bahwa kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia kita. Aku selalu mengagumi orang-orang yang telah mengalami begitu banyak hal, hingga hatinya makin terbuka dan lembut, lebih bijak atas segala hal yang tak selalu jelas. Sungguh pada saat seperti itu, aku mungkin akan menjadi rakus, karena semua begitu berharga, untuk hidup yang singkat ini.

Begitu banyak rasa terimakasihku padamu, atas semuanya. Rasanya tak pernah cukup apapun yang kulakukan untuk membalas semua yang pernah kita lalui. Ketika kamu ijinkan aku menyusup sejenak diantara kelopak-kelopak bunga hatimu. Dan kamu biarkan aku nikmati pendar-pendar warnanya. Kamu tahu? Semua tampak indah dan bercahaya bagiku. Seperti butiran permata dan wangi-wangian dari surga, ketika aku lekat denganmu. Harapan… ah harapan, tentu saja ada.

Pada puisi aku belajar mengeja makna, pada kata aku belajar menangkap dunia tanda. Ternyata, mencari struktur sempurna dari cahaya keindahan kalimat adalah menenggelamkan diri sepenuhnya pada seluruh peristiwa hidupku. Tak lagi ada hal-hal tanggung yang bisa aku lakukan. Semua yang mulia hanya butuh totalitas demi kesempurnaannya. Dan aku mungkn tak pernah pantas untuk itu. Aku cuma seorang pemungut kata jalanan, yang sedang mencoba mengais-ngais serabut makna yang bisa kupahami dari carut-marut dunia tanda. Dan dimana namamu pernah aku eja, terlibat di dalamnya rasa sayang.

Aku tuliskan surat ini buatmu seorang dengan cara membukanya. Toh aku sudah lelah dengan kebohongan dan topeng kemunafikanku selama ini aku banggakan. Menyimpan sesuatu yang amat rahasia dengan membukan semuanya. Hingga seolah tak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan. Tapi toh seluruh maknanya menjadi begitu pribadi dan terjaga karenanya. Apa yang bisa dipahami dari cara berpikir seperti itu? Hm…. tampaknya aku mesti belajar lagi untuk mengerti bukan? Biarkan semuanya mengalir dengan wajar tanpa aku menjadi terhanyut karenanya.

Aku coba cari handphoneku yang tadi malam aku tendang entah kemana, akhirnya kutemukan dibawah serakan kertas-kertas puisi yang setia mendengar keluh kesahku. Aku pencet tombol nomor 5 dan call, tapi berulang kali aku lakukan tetap saja suara seorang wanita yang aku dengar “Nomor yang anda tuju tidak terdaftar,silakan periksa dan coba hubungi kembali…”. Aku merasa aku akan kehilangan sesuatu yang memaknai kehidupanku baik sebagai seorang teman, sahabat, atau bahkan sebagai mahkota hati.

Banyak sekali yang ingin aku ceritakan untukmu, terlepas dari orang orang – orang yang pernah membagi kenangan indah bersamamu ataupun orang yang pernah mengisi hatiku walau telah memudar.

Aku meminta maaf dan menyesal telah sengaja merusak persahabatan yang indah ini dengan cerita pengecut ini namun aku harap kamu mau memberitahuku dimana kamu sekarang ?

Jakarta, ketika waktu tersendat di ruas-ruas rindu
Semoga kurnia Allah selalu menyelimuti senyummu
salam

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment