Seberapa Besar Kapasitas Aktual Diri Anda?

Berikut adalah satu artikel menarik yang semoga bisa memberikan inspirasi bagi anda.

Disekitar kita; begitu banyak orang hebat yang mengagumkan. Mereka
memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sehingga terlihat unggul dari
manusia lainnya. Ketika dihadapkan pada suatu pekerjaan atau tugas
tertentu, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan lebih baik dari
orang lain. Ketika mereka dihadapkan pada situasi sulit tertentu,
mereka selalu bisa menangani kesulitan itu dengan lebih baik dari
orang lain. Ketika prestasi mereka dievaluasi, track record-nya lebih
cemerlang dari kebanyakan orang. Seolah-olah, mereka benar-benar
manusia paling ideal untuk pekerjaan yang ditanganinya. Itu membuat
kita bertanya; “Mengapa Tuhan memberikan talenta begitu hebatnya
kepada dia? Sedangkan kepada saya tidak. Jika saya diberkahi
kemampuan yang seperti itu, pasti saya akan berprestasi seperti orang
itu.” Benarkah demikian?

Beberapa waktu lalu, saya merasakan bahwa kemampuan lap top saya
sudah menurun sangat jauh sekali dari sebelumnya. Padahal, dia
menggunakan processor yang pasti memadai untuk mendukung kinerja
seorang perofesional. Kinerjanya yang semakin memburuk membuat saya
tidak mampu menyembunyikan ketidaksabaran ini, sampai-sampai boss
saya memergoki dan bilang; “Be patience Dadang, it is still
processing…” katanya. “She has to perform faster if she still wants
to work with me,” saya menyahut. Tapi, kecaman saya tidak membuatnya
bekerja lebih cepat. Padahal, saya sudah melakukan clean disk, dan
juga defrag. Akhirnya, minggu lalu saya mengirim memo kepada teman-
teman di BT, bahwa saya mau lap top yang bisa bekerja lebih cepat.

Tak lama kemudian, lap top itupun masuk ke dalam klinik untuk
diperiksa para dokter spesialis computer, sebelum kembali keruang
kerja saya beberapa jam berikutnya. Tahukah anda, bagaimana
kinerjanya sekarang? Wuish, she runs like a flash! Sampai-sampai saya
terkejut dibuatnya. Sehingga saya tidak sabar untuk bertanya;”Man,
elo apain tuch lap top gue?”

Teman BT saya berkata;”Ditambah RAM-nya jadi dua kali lipat, Pak.”
“Cuma begitu doank?”
“Iya. Hanya itu.” Jawabnya. Saya tahu dia bangga dengan hasil
kerjanya. Dan saya sangat menghargai usahanya.
“Nggak elo ganti processornya? “
“Nggak Pak,” katanya. “Masih bagus, kok.” Lanjutnya.

Saat itu saya menyadari, bahwa processor adalah potensi atau
kapasitas maksimal tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah
computer. Dalam diri manusia, itulah yang biasa kita sebut sebagai
talenta atau bakat, alias kapasitas terpendam dalam diri seseorang.
Dalam computer, fungsi processor itu penting pada saat kompuetr
sedang diaktifkan untuk bekerja. Ini menentukan sampai sejauh mana
fungsi computer itu bisa dimaksimalkan. Bagi manusia, fungsi talenta
itu penting pada saat kita sedang bekerja atau melakukan suatu
aktivitas. Ini menentukan sampai setinggi apa kita bisa berprestasi.

Sekarang, RAM itu apa? Mengapa meningkatkan RAM dua kali lipat bisa
menaikkan kinerja processor computer itu sedemikan bermaknanya? RAM
adalah sebuah playing ground. Tempat dimana file-file ditarik dari
hard disk dan siap untuk diaktifkan. Dioperasikan. Diolah.
Dieksekusi. Ditambah gambar ini dan itu. Meskipun kemampuan
prosesornya tinggi, namun jika RAM-nya terlampau kecil untuk
menampung file-file yang sedang diaktifkan, maka kinerja computer itu
akan menjadi sangat buruk. Dia tidak bisa menjadi computer canggih.
Manusia juga demikian. Meskipun talentanya besar. Potensi dirinya
tinggi. Namun, jika kapasitas playing ground-nya terlampau kecil
untuk menampung seluruh potensi diri itu, maka kinerjanya akan buruk
juga. Dia tidak akan bisa menjadi manusia unggul.

Ngomong-ngomong, bukankah kita seringkali berbangga hati dengan
menyebutkan bahwa; “manusia adalah super computer?” Jika klaim itu
benar adanya; bukankah seharusnya kita bisa lebih hebat dari computer
tercanggih sekalipun? Mungkin itu benar jika konteks yang kita maksud
adalah talenta atau potensi diri yang kita miliki. Sebab, kita
percaya bahwa kemampuan otak kita saja konon baru digunakan tidak
sampai 5% saja. Tetapi, jika kita berbicara tentang actualized
individual potential, maka kita harus bertanya ulang. Mengapa?
Karena, kita sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang
sesungguhnya sangat berbakat, namun pencapaiannya tidak sampai kemana-
mana. Sebab, orang-orang ini telah membiarkan playing ground-nya
menjadi begitu kecil.

Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana caranya memperbesar playing
ground diri kita? Ada banyak cara. Satu, melatih diri untuk sesuatu
yang lebih tinggi. Berapa banyak dari kita yang bersedia menantang
diri sendiri untuk menguasai keterampilan- keterampilan baru?
Kenyataannya kita sudah cukup puas dengan kemampuan yang kita miliki
saat ini. Melatih diri untuk sesuatu yang baru itu menguras tenaga.
Membutuhkan waktu. Dan memerlukan komitment. Mengapa kita harus
bersusah payah begitu jika kita sudah puas dengan keadaan sekarang?

Dua, meninggalkan comfort zone. Ada banyak peluang baru dalam jarak
setengah sentimeter dari diri kita. Namun, untuk meraihnya kita harus
bersedia keluar dari zona kenyamanan kita. Mungkin kita harus
meninggalkan kestabilan menuju kepada hal yang tidak menentu untuk
sementara waktu. Kita perlu menyesuaikan diri kembali. Kita harus
merevisi asumsi-asumsi diri. Dan banyak hal lagi yang mesti kita
ubah. Tetapi, berapa banyak dari kita yang bersedia meninggalkan
comfort zone seperti itu? Jika kondisi sekarang sudah membuat kita
enak, mengapa kita harus meninggalkan kenyamanan ini untuk sesuatu
yang beresiko dan penuh teka-teki?

Tiga, bersedia membayar harganya. Ketika kita melihat orang lain
berprestasi tinggi, seringkali kita hanya melihat hasil akhirnya
saja. Yaitu, berupa pencapaian hebat orang itu. Lalu, kita
berkata; “Beruntungnya dia. Tuhan telah berbaik hati memberinya
talenta yang hebat.” Kita tidak pernah tahu bahwa orang itu telah
selama bertahun-tahun mengurangi jam tidurnya. Membuang kesenangannya
bermain-main dengan game computer yang menyita begitu banyak waktu,
tenaga dan biaya itu. Memeras pikirannya. Memaksa diri untuk
berdisiplin tinggi. Dan hanya berfokus kepada hal-hal yang akan
membawanya kepada peningkatan kualitas diri secara progresif.

Kita tidak pernah mengetahui semua kerja keras yang dilakukan oleh
orang itu. Karena kita terlampau silau oleh hasil akhir yang
dicapainya, sambil sesekali menelan ludah. Yang sebenarnya terjadi
adalah; `Hanya setelah orang itu bersedia membayar semua harganya
sajalah, dia baru bisa sampai kepada pencapaian itu.’ Lagi pula,
kalau pun kita tahu pahit dan sulit serta terjal berlikunya jalan
yang harus dia tempuh; belum tentu kita mau mengikuti jejak
langkahnya, bukan? Padahal, ketiga hal itulah yang sesungguhnya telah
berhasil menjadikan playing ground-nya menjadi semakin besar.
Sehingga kapasitas dirinya juga menjadi semakin besar. Semakin besar.
Dan semakin membesar. Sehingga tidak heran jika orang itu bisa
meninggalkan manusia-manusia kebanyakan jauh dibelakangnya.

Jika dalam computer kita menyebutnya RAM, bagaimana dengan manusia?
Bolehkah saya menyebutnya HAM? Ya. HAM. Human Activated Memory.
Yaitu, memory yang tersimpan dalam diri kita, yang bisa kita gunakan
untuk berurusan dengan hal-hal yang kita hadapi secara spontan.
Memori itu berbahan dasar talenta. Yaitu, potensi yang tersimpan
didalam diri kita. Betul-betul dilatih dan diolah sampai menjadi
kemampuan actual. Sehingga, kapan saja kemampuan itu dibutuhkan, kita
bisa memanggil dan mendayagunakannya secara spontan.

Anda boleh saja mengklaim diri berbakat bermain piano, misalnya.
Tapi, jika bakat itu tidak diasah dengan sungguh-sungguh. Maka klaim
anda hanya akan menjadi bualan belaka. Permainan piano anda tetap
saja jelek. Anda boleh saja mengklaim bahwa diri andalah yang paling
layak mendapatkan promosi itu, bukan pesaing anda. Karena anda
mengira bahwa anda lebih senior. Lebih pintar. Lebih rajin. Tapi,
jika klaim anda itu tidak didukung oleh kapasitas actual yang bisa
anda tunjukkan; maka anda tetap saja akan menjadi karyawan jelek. Dan
hati anda juga jelek, karena dipenuhi rasa iri.

Anda juga boleh menganggap diri sendiri kurang berbakat. Jadi, wajar
saja jika pencapaian anda biasa-biasa saja. Anda tidak dilahirkan
untuk menjadi pemenang. Karena Tuhan memberi anda begitu banyak
keterbatasan. Hey, wake up! Bangun, bung! Tidak ada manusia yang
dilahirkan tanpa keterbatasan. Dan tidak ada manusia yang dilahirkan
tanpa membawa pesan dan seoles kemampuan. Wake up and realize that
YOU; don’t need to be a perfect person to succeed. YOU, just need to
accept yourself just the way you are. And start to enlarge your own
playing ground. Your Human Actualized Memory. Your HAM. Would you?

Taken from Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com

Tantangan itu bernama hidup

Seminggu sudah Idul Fitri berlalu, namun suasana di kantor masih terasa kental akan aroma saling salam dan bermaaf-maafan. Setelah kurang lebih 2 minggu saya cuti untuk liburan hari raya dan hari ini adalah hari pertama masuk kerja, maka tak lupa dengan kerendahan hati dan keikhlasan bathin saya ingin mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin, mulai dari angka nol lagi ya :D (seperti iklan BUMN kita)

Bulan ramadhan tahun ini terasa istimewa bagi saya, karena saya dikaruniai kesibukan baru yang alhamdulillah dapat saya tuai hasilnya. Kesibukan itu adalah mengikuti proses rekrutmen dari dua operator penyelenggara layanan seluler di Indonesia dengan posisi sebagai middle analyst. Satu diantaranya adalah adalah salah satu operator dari big 3 GSM. Proses rekrutmen alhamdulillah berjalan mulus berkat bimbingan sang Ilahi, dari tahap awal wawancara hingga terakhir yaitu tahap negosiasi gaji. Bahkan ada hal lucu dimana HRD dari kedua operator mengundang untuk melakukan medical test di waktu dan tempat yang sama yaitu 2 hari sebelum cuti masal dimulai.

Saya hanya bisa menggelengkan kepala tanda tak percaya, kok bisa sih. Namun saya tetap yakin bahwa ini adalah kehendak-Nya dan semua peristiwa pasti ada hikmahnya, baik itu yang buruk maupun yang baik. Akhirnya, sehari sebelum saya kembali ke Jakarta, saya segera mengambil keputusan untuk memilih operator yang tidak terlalu bonafit. Dari sisi kompensasi memang tidak terlalu jauh meski lebih kecil namun saya melihat adanya tantangan di sana. Tantangan untuk bertahan hidup. Iya, dalam hal ini adalah karier. Saya melihat bahwa peluang untuk peningkatan karier yang lebih cepat ada dan saya harus kesana.

Tantangan akan menjadikan hidup lebih hidup karena kita akan punya suatu plan, action, dan target untuk masa depan. Sehingga akan terasa hidup yang kita jalani lebih bermanfaat. Bayangkan jika anda tidak punya keinginan pasti kita tak akan tahu kemana sih diri kita akan dibawa dan untuk apa sih kita ini hidup. Dan peluang kita untuk memasuki gray area akan lebih besar karena kita tidak ada blue print yang jelas tentang bagaimana kita menjalani hidup. Akibatnya mudah ditebak, kita akan terombang-ambing dan mudah untuk dipengaruhi lingkungan.

Maka beranilah menerima tantangan atau menantang, karena dengan begitu potensi-potensi diri yang lama terpendam akan muncul yang menjadikan kita lebih kuat.

Salam Sukses untuk penantang hidup.

Berinvestasi sebagai pemberi utang

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini, akibat beberapa kesibukan kantor dan kampus yang cukup menyita waktu. Bahkan beberapa hari terakhir tidur diatas jam 12 malam.

Ok, back to topic. Tulisan kali ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yaitu tentang investasi high return no risk. Namun portofolio kali ini adalah hutang. Dimana jika kita berinvestasi (memberikan hutang) kepada orang lain, maka Allah akan memberikan return sebesar 17 kali lipat daripada hutang pokok yang kita berikan. Mungkin kita bertanya kok bisa ya? padahal kalau kita memberikan hutang kepada orang lain, toh uang kita akan kembali suatu saat nanti. Beda dengan berinfaq, uang kita secara fisik sudah hilang karena kita berikan kepada orang lain tanpa berharap orang tersebut mengembalikan. Kok bisa-bisanya return pemberi utang lebih tinggi daripada berinfaq.

Di dalam hadist HR.Ibnu Majah, Nabi SAW pernah menyampaikan bahwa di dalam perjalanan Isra, beliau melihat di pitu surga tertulis bahwa infaq shodaqoh diganjar 10 kali lipat sedangkan memberi utang diganjar 17 kali lipat. Nabi pun pernah bertanya kepada malaikat jibril perihal tersebut, dan jibril menjawab bahwa orang yang diberi infaq belum tentu mereka membutuhkan sedangkan orang yang berhutang pasti memerlukan bantuan.

Namun, tetap ingat bahwa dalam memberi hutang jangan mengharapkan bunga ataupun kompensasi apapun pada saat pengembalian kepada orang tersebut. Karena selain dosa yang sangat besar, juga return 1700% yang dijanjikan oleh Allah SWT pastilah menguap.

Salam Investasi

Sedekah, High Return Zero Risk

Sholat jumat kemarin berbeda dengan sholat-sholat jumat sebelumnya yaitu khotib yang menyampaikan khutbah jumat adalah Ustad Yusuf Mansyur. Kemungkinan besar pada pembaca semua sudah tahu siapa itu Yusuf Mansyur. Khutbah yang disampaikan pada kesempatan itu adalah khutbah tersingkat yang pernah saya ikuti selama saya di Jakarta. Menurut perkiraan saya tidak sampai 10 menit khutbah tersebut disampaikan. Namun Yusuf Mansyur menyampaikan kalau setelah sholat jumat akan diadakan semacam pengajian sampai jam 1 siang. Kalau menurut pendapat saya pribadi dan melihat gaya penyampaian Yusuf Mansyur sebelumnya, pak ustadz ini kurang menyukai forum formal yang kaku. Namun terlepas dengan semua itu saya mencoba membagikan apa yang saya dapatkan dari Yusuf Mansyur saat itu.

Tema pada pengajian dadakan itu adalah tentang sedekah. Sedekah adalah sebuah investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan. Di dalam Al-Quran, Allah SWT menjamin return dari investasi itu 1000% atau 10 kali lipat dari modal yang kita keluarkan. Bahkan resiko yang ditanggung adalah 0%. Investasi macam apa di dunia ini yang sanggup mengalahkan investasi dengan sedekah ini. Salah satu cerita menarik yang disampaikan oleh Yusuf Mansyur saat itu adalah ada seorang teman beliau yang ingin berangkat naik haji. Dia berencana untuk menabung sedikit demi sedikit di tabungan haji pada sebuah lembaga keuangan namun masih bimbang. Dia datang ke Yusuf Mansyur untuk mencoba berdiskusi, dan singkat cerita Yusuf Mansyur menyarankan uang yang dia punya itu diinfaqkan ke pesantren Yusuf Mansyur, dan Yusuf Mansyur pun mengatakan kalau sedekah dijalan Allah akan mendapatkan balasan 10 x lipat. Secara matematis, misalkan uang untuk berangkat haji adalah 25 juta, maka yang harus diinfaqkan adalah 2,5 juta dengan diiringi doa semoga saya selalu dilimpahkan rejeki dan saya diundang untuk menunaikan ibadah haji. Selang beberapa bulan kemudian dia mendapatkan reward dari kantornya untuk berangkat haji biaya kantor. Sungguh luar biasa bukan….

Sedekah dan doa adalah dua hal berbeda. Sedekah didasari oleh keikhlasan untuk berbagi sedangkan doa didasari oleh kehambaan/ketidakmampuan atau pengharapan untuk ditolong. Benar sekali sedekah harus ikhlas namun Allah juga menganjurkan kita untuk senantiasa berdoa kapanpun dan dimanapun. Jadi tidak ada salahnya kita melakukan dua-duanya bahkan dalam waktu yang bersamaan. Karena menurut beberapa sumber yang saya baca bahwa kemakmuran dan kebahagiaan seseorang didasari oleh tiga hal yaitu kerja keras, doa/ibadah dan sedekah.

Di luar negeri kita dapat mengambil pelajaran dari seorang investor ulung yang sangat sukses di pasar modal, yaitu Warren Buffet. Menurut pendapat saya pribadi, beliau sudah merasakan return yang luar biasa dari instrumen investasi sedekah ini sehingga pada kesempatan lain beliau menghibahkan 85% di bulan Juni 2006 pada Yayasan Bill & Melinda Gates Foundation. Dan ajaibnya, meskipun harga beliau berkurang setiap tahunnya untuk amal, namun saham yang dia miliki meningkat lebih cepat.(by forbes magazine).

Dengan contoh diatas, apakah anda akan melewatkan begitu saja kesempatan investasi luar biasa ini? Di Indonesia orang berbondong-bondong menempatkan portofolio nya pada instrumen saham untuk mendapatkan return yang tinggi, namun jangan lupa resiko tinggi sudah menanti di depan mata. Berbagilah dan nikmati hasilnya…

Salam Senyum dan Sedekah

Market challenger become follower

Perkembangan dunia telekomunikasi Indonesia selama 3-5 tahun ini berkembang cukup pesat ditandai dengan makin banyaknya operator baru penyedia layanan telekomunikasi bermunculan. Indonesia yang populasi penduduknya sekita 220 juta jiwa adalah target pasar yang gurih bagi operator tadi. Apalagi sekarang pelanggan telekomunikasi baru sekitar 110 juta atau masih 50-55%, itupun banyak diantara mereka adalah double subscriber. Dengan bermunculan operator baru, maka penetrasi telekomunikasi ke pasar Indonesia makin dalam. Yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan menengah ke atas, sekarang menengah ke bawahpun dalam berhape ria. Dulu untuk membeli starterpack(nomor) saja dibutuhkan uang 200 ribu, sekarang 249 ribu sudah dapat nomor dan handphone sekalian.
Sekarang kita coba melihat operator incumbent, operator-operator telekomunikasi yang sudah dewasa dan matang dalam mengarungi persaingan pasar. Di situ ada telkomsel, market leader yang sukses mempertahankan posisinya hingga saat ini. Eric Meyer, sang sutradara marketing telkomsel mampu membawa bendera telkomsel tetap berkibar di atas sampai sekarang. Meskipun ada beberapa pengamat yang mengatakan bahwa sentuhan marketing yang maknyuss dari telkomsel sudah mulai pudar seiring dengan pindahnya sang sutradara ke bakrie telekom. Salah satu keunggulan dari telkomsel sampai saat ini adalah coverage atau daerah cakupan. Di mana sampai detik ini belum ada yang dapat menyaingi jumlah bts yang mencapai 14.000 buah di seluruh nusantara. Oleh karena itu, telkomsel cukup cool menyikapi perang tarif yang berkembang akhir-akhir ini. Karena kalau saya perhatikan strategi mereka bukan lagi mendapatkan pelanggan baru tetapi mempertahankan loyalitas pelanggan lama.

Di belakang telkomsel, ada penantang, operator besar sebagai penyeimbang yang mempunyai reputasi sangat bagus. Dengan jumlah subscriber 1/2 dari subscriber telkomsel membawa indosat memperoleh laba hingga 2 triliun di tahun 2007. Meskipun coverage indosat masih belum dapat menyamai telkomsel namun indosat terus berusaha memperluas dan memperbaiki kualitas signalnya bahkan slogan marketing menyebutkan “signal kuat indosat” di awal tahun 2007. Didukung oleh anggaran modal yang besar, membuat teknologi indosat terus up to date. Beberapa waktu yang lalu saya membaca ulasan di koran tempo bahwa 3.5 G indosat cukup stabil dibandingkan operator lainnya meskipun masih ada blankspot di beberapa titik di Jakarta.

Ada excelcomindo, operator yang sebagian sahamnya dikuasai oleh telecom malaysia ini menguntit dibelakang 2 operator besar dari sisi subscriber dan profit. Gerakan agresif excel untuk mendapatkan subscriber baru cukup efektif membuat operator ini memiliki 15.5 juta subscriber di akhir tahun 2007 lalu. Apalagi punggawa indosat yaitu Hasnul Suhaimi berganti bendera dengan menjadi komando di exelcom. Kalau operator di atasnya tidak menghiraukan, bukan tidak mungkin bendera excel akan berkibar lebih tinggi.

Beberapa bulan terakhir promosi tarif Rp. 1/detik oleh excelcom membuat dunia telekomunikasi seluler indonesia bergejolak. Genderang perang tarif dimulai. Telkomsel membalas dengan tarif Rp. 0.5/detik, lalu excel membuat tarifnya menjadi Rp. 0.1/detik. Indosat coba memanaskan perang dengan menawarkan tarif Rp. 0.01/detik. Kemudian berkembang pertarungan tarif antara indosat dan excel sampai 0.000000…1 dan kawin ama kambing. Luar biasa !!! Namun saya mencermati, posisi indosat dari perang tarif itu menjadi seperti follower tarif excel. Coba kita diperhatikan, indosat menawarkan tarif 0.01 karena mengikuti excel yang lebih dulu 0.1. Sekarang excel menawarkan Rp. 600 ke seluler manapun di ikuti oleh indosat dengan Rp. 240.
Lalu posisi indosat sebagai market chalanger nya telkomsel menjadi bias bahkan cenderung followernya excelcom. Ada apakah ini? apakah ini akibat ketakutan berlebihan karena subscribernya beralih ke operator? Ataukah kebuntuan inovasi dan kreatifitas menghampiri para punggawa marketing di indosat sehingga melupakan “blue ocean strategy“. Saya berpendapat, seharusnya indosat maupun operator lain membawa diri untuk lebih sabar menyikapi persaingan ketat ini dan tetap menjaga kualitas agar tetap exist dan dibutuhkan pelanggan.
Perang tarif adalah gula yang sangat manis untuk pelanggan namun jika kualitas pelayanan tidak diperbaiki bahkan dikebiri seperti gula yang banyak semutnya. Manis namun tidak ada yang mau menyentuhnya.

Bravo telekomunikasi indonesia.

*Tulisan diatas adalah pendapat pribadi dan hanya untuk referensi pribadi bukan untuk promosi maupun doktrinisasi.

60 Detik yang mengubah stres buruk menjadi stres baik

Proses modifikasi pola perilaku merupakan langkah utama yang memudahkan kita untuk mengubah hidup dan membuat sikap itu sesuai dengan kepribadian kita. Upaya untuk mengibah sebagian pola perilaku kita sangat menentukan dalam manajemen stres:60 detik dan dalam mengembangkan toleransi terhadap stres. Ada beberapa metode dasar untuk mengubah sikap dan metode tersebut membawa kita ke dalam teknik-teknik manajemen stres:60 detik

1. Berbicara dengan diri sendiri secara positif. Bila kita berada dalam situasi yang penuh stres, ambillah waktu satu menit untuk menemukan sesuatu yang positif dari peristiwa itu. Hal terburuk yang dapat kita lakukan adalah mengatakan sesuatu yang negatif kepada diri sendiri.

2. Bayangkah hasil-hasil yang positif. Ketika berada di bawah tekanan, umumnya kita membayangkah apa yang diharapkan akan terjadi. Berhentilah dan ambillah waktu 60 detik untuk memikirkan hasil yang baik. Berharaplah untuk meraih sukses. Jika demikian, hasil yang baik dari situasi yang penuh stres akan datang dengan sendirinya.

3. Bersikap cukup fleksibel untuk berubah. Kita tidak perlu ragu untuk mengubah cara kita mendekati masalah. Dengan bersikap fleksibel, kita dapat menemukan metode yang lebih baik dalam mencapai tujuan dan mengatur hidup ini. Kita harus memiliki kebijaksanaan dan keberanian untuk melakukan berbagai hal dengan cara yang lebih baik.

4. Ambillah waktu istirahat. Hanya sedikit di antara kita yang dapat bekerja lebih dari tiga atau empat jam tanpa kehilangan kemampuan untuk berkosentrasi. Kita perlu beristirahat setiap beberapa jam. Hal ini bermanfaat untuk membebaskan pikiran dan mengembalikannya pada kerangka berpikir yang baik. Menyisihkan waktu satu menit untuk diri sendiri akan membuat kita merasa penting dan berharga. Ketika kita membuat diri istimewa, secara otomatis kita memiliki pandangan yang lebih baik terhadap kehidupan. Selain itu, kita dapat meningkatkan kemampuan untuk mengubah hidup.

5. Carilah waktu kerja dan lingkungan yang terbaik. Kebanyakan dari kita adalah orang-orang yang sibuk di pagi atau malam hari. Tentukan waktu yang terbaik bagi anda. Kemudian, rencanakan sebanyak mungkin jadwal pekerjaan pada periode waktu tersebut, mengerjakan tugas pada puncak energi anda.

6. Berolahraga. Olahraga adalah salah satu cara terbaik untuk melepaskan ketegangan dan kekhawatiran. Olahraga tidak hanya membuat kita merasa berenergi dan segar, tetapi juga mendorong sistem kekebalan kita. Olahraga juga melepaskan hormon endorfin di dqalam tubuh kita. Selain berfungsi sebagai penahan rasa sakit, hormon ini juga menimbulkan perasaan sejahtera dan gembira.

7. Jangan tinggal di masa lalu. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, hanya masa sekarang dan mungkin, masa depan. Itu sebabnya, alih-alih mengkhawatirkan apa yang telah terjadi di masa lalu, kita seharusnya mengambil waktu satu menit untuk menggunakan pengalaman masa lalu itu secara positif: “Baik, saya tidak mau melakukan itu dengan cara seperti dulu. Suatu saat, saya akan melakukannya dengan cara lain” Maka, lupakan hal itu dan lanjutkan langkah anda untuk melakukan hal-hal yang lebih penting.

8. Ubahlah atau hindari situasi. Semua orang mempunyai sifat dalam kepribadian yang tidak sanggup mengatasi situasi-situasi tertentu. Bahkan, ketika kita berupaya mengubah sikap dan perilaku kita. Ketika hal ini terjadi, ubahlah atau hindari situasi itu sepenuhnya. Hal ini mungkin sulit dilakukan, terutama jika berkaitan dengan pekerjaan atau karier. Tetapi, kebanyakan orang menemukan bahwa teknik manajemen stres:60 detik sangat menolong untuk memperbaiki situasi mereka hingga suatu suatu titik di mana sanggup menghadapi kondisi yang terburuk.

Agar dapat mengubah peristiwa negatif menjadi pengalaman positif, kita harus melakukan penyesuaian dalam berpikir dan tindakan kita. Tanpa memperhatikan jenis kepribadian kita pengkondisian diri untuk menghadapi stres melalui perubahan sikap dan perilaku merupakan elemen kunci dalam mengembangkan gaya hidup yang toleran terhadap stres.

*Tulisan diatas dikutip dari buku 60 Second:Stres Managemen tulisan Dr. Andrew Goliszek

Outsourcing, perburuhan ala kapitalis

Selama 5 tahun terakhir kita dapat memperhatikan jamur-jamur outsourcing tumbuh subur nusantara. Dengan alih-alih demi menarik investor dan pertumbuhan ekonomi makro, pemerintah membuka jalan lebar-lebar untuk sistem outsourcing itu. Tentu saja, hal ini menggembirakan para pengusaha karena bisa mendapatkan tenaga kerja lebih murah sehingga profit perusahaan meningkat. Namun, tidak sedikit pengusaha yang berbuat nakal dengan memanfaatkan kelemahan sistem ini dengan tidak memperhatikan sisi kemanusiaan dan masa depan tenaga kerja hanya demi menekan cost upah buruh.
Sebelum lebih lanjut saya membahas, kita mesti mengetahui apa sih outsourcing itu? saya bisa memberikan gambaran bahwa outsourcing adalah suatu sistem pemindahan tanggung jawab non core business unit dari perusahaan inti ke perusahaan lain di luar perusahaan inti tersebut. Sehingga tenaga kerja itu terikat kontrak kerja kepada perusahaan lain dan sebagian besar adalah kontrak. Untuk hak dan benefit karyawan, sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan RI adalah sama dengan apa yang didapatkan oleh tenaga kerja tetap.

Di Indonesia, praktek outsourcing ini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan kecil yang sedang berkembang demi efisiensi biaya perusahaan sehingga pertumbuhan perusahaan lebih cepat, namun juga dilakukan oleh perusahaan besar yang sudah mature. Disinilah kita bisa melihat ketamakan dan kapitalisasi dibalik semua ini. Apalagi dalam prakteknya, perusahaan memodifikasi sedemikian rupa sehingga sistem ini menguntungkan pengusaha dan sangat-sangat merugikan tenaga kerja. Contohnya, praktek sistem outsourcing ini pada perusahaan besar di telco indonesia. Perusahaan ini memanfaatkan sistem outsourcing hampir di setiap lini bisnisnya. Network, IT, Finance, Marketing, Customer Service, dan sebagainya. Menilik pada Undang Undang Ketenagakerjaan Pasal 66 disebutkan bahwa “Pekerja dari penyedia jasa pekerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi” dari satu pasal diatas sudah kelihatan adanya pelanggaran. Lalu status kontrak dari tenaga kerja itu sendiri juga ada indikasi pelanggaran bercermin pada pasal 59 yang menyebutkan
Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan
pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu:
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.

Bahkan mogok kerjapun seringkali dianggap sinis oleh perusahaan dan bisa berakibat pada ancaman pemutusan hubungan kerja, padahal hal tersebut secara hukum adalah sah sesuai dengan pasal 137-145. Namun sekali lagi, tenaga kerja selalu dalam posisi lemah. Mereka sangat memerlukan pekerjaan dan sistem apapun meski itu merugikan akan mereka terima asalkan bisa mendapatkan pekerjaan. Cerminan tenaga kerja Indonesia yang tidak mempunyai bargaining power di negeri sendiri, apa lagi di negeri orang lain.

Semoga pemerintah mau dan dapat merevisi UU Ketenagakerjaan yang lebih menguntungkan tenaga kerja dan mengawasi prakteknya. Tidak lagi mementingkan pertumbuhan ekonomi namun juga kesejahteraan tenaga kerja Indonesia, toh apa artinya ekonomi tumbuh dengan pesat namun kesejahteraan tenaga kerja rendah maka akan timbul gejolak sosial akibat kesenjangan yang begitu lebarnya.

Salam anti outsourcing….

*Referensi tulisan diatas
1. Detikcom
2. UU Ketenagakerjaan

Change unrealistic to be realistic

Merubah tidak mungkin menjadi mungkin….
Anda punya mimpi? pastinya ada bukan. Namun mulai sekarang belajarlah untuk mempunyai mimpi yang unrealistic (mustahil). Mungkin sebagian besar orang mempunyai mimpi besar namun sesegera akan muncul ada batasan-batasan yang dia ciptakan sendiri. Akibatnya impian itu menjadi mengkerut dan kerdil. Suatu contoh, dia adalah karyawan biasa mempunyai gaji cuma 2 juta per bulan. Setiap perjalanan ke kantor sering melintas mobil-mobil mewah di depannya sehingga muncul impian dia untuk mempunyai mobil tersebut yang kisaran harganya 500 juta. Tapi makin dipikir kok makin mustahil ya impian itu, bagaimana bisa? wong gaji aja tiap bulan habis buat hidup, gerutunya. Akibatnya, ya sudahlah terima sajalah, mudah-mudahan bisa beli mobil. Syukur-syukur tipenya sama dengan mobil-mobil mewah yang sering dilihatnya.

Nah dari sini kita dapat melihat bahwa sebenarnya dia sudah dijalur benar bahwa mempunyai mimpi, artinya dia mempunyai motivasi untuk menjaga eksistensinya dalam hidup. Namun sekali lagi dia menciptakan batasan yang membuat dia demotivate. Batasan itu muncul karena perasaan. Perasaan mustahil, takut gagal, dianggap aneh, atau bahkan dianggap gila. Akhirnya apa yang terjadi, dia menjadi seorang negosiator dan mencoba menawar impiannya sendiri. Dia berpikir realistis, ya sudah beli mobil biasa-biasa saja, yang penting punya. Andai saja dia tetap fokus, saya yakin dia akan merubah sesuatu, paling tidak merubah dirinya sendiri.

Kita pasti mengenal sosok bapak Tirto Utomo, seorang pendiri usaha air minum Aqua. Awalnya dia banyak ditertawakan orang, wong air putih kok dijual apa laku? Sekarang, siapa yang tidak tahu dengan aqua. Bahkan inovasi ini banyak ditiru oleh orang lain, tapi tetap saja Aqua sudah menjadi brand terkenal, bahkan sebagian besar sahamnya dibeli oleh perusahaan asal perancis, Danone. Di luar negeri kita tahu sosok Masaru Ibuka, presiden kehormatan sony yang mencetuskan ide gila, membuat tape recorder yang mempunyai headphone ringan sehingga dapat dibawa kemana-mana. Nada pesimis baik dari lingkungan internal maupun eksternal nyaring mendengung. Bahkan anggaran peluncuran produk ini hanya 100.000 dollar AS, anggaran sangat kecil dibanding dengan dengan produk sony lain. Dan sekarang, kita lihat betapa manisnya buah dari ide itu. Bahkan dunia mengakui bahwa ide itu adalah salah ide paling inovatif dalam sejarah.

Sekarang giliran anda. Menciptakan suatu impian yang tidak mungkin buat orang lain, tapi buat anda semuanya mungkin. Rencanakan pencapaiannya dan lakukan segera. Anda akan melalui sebuah proses yang akan anda nikmati. Bersabarlah dan selalu konsisten. “Tidak penting berapa banyak anda mengalami kegagalan, yang sangat penting adalah berapa kali anda dapat bangkit dari keterpurukan“. Memang banyak orang akan menganggap ini hanyalah teori. Prakteknya akan ada banyak sekali hambatan. Tapi ingatlah teori ini sudah terbukti, telah dipakai dan melahirkan orang yang dapat merubah dunia.

Bagaimana dengan anda?

Prepare your retire

Persiapkan pensiun anda…
Dulu waktu saya masih sekolah, banyak teman-teman saya bilang nanti kalau udah dewasa pingin kerja jadi PNS karena kita akan dapet asuransi kesehatan dan uang pensiun kalau nanti sudah pensiun. Atau kalau kerja di swasta cari perusahaan yang bonafit seperti telkom, pln, atau pt pos yang belakang saya ketahui kalau perusahaan itu adalah perusahaan BUMN. Saya cuman manggut-manggut saja mendengar celoteh bocah SMP yang memang predikatnya jempolan soal rangking-rangkingan di kelas.

Sekarang, setelah bertemu dengan banyak orang dan bertukar pikiran, wawasan saya lebih terbuka. Memang menyenangkan seandainya kita berada pada posisi orang yang beruntung, sudah kerja di perusahaan bonafit, gaji lebih dari cukup, setiap sakit berobat gratis, dan kalau pensiun masih dibayar. Nah lho, mau cari apa lagi kalau sudah begitu, enak banget khn…. Itu kalau kita termasuk orang beruntung. Kalau tidak, ya kita mesti sedikit berpikir dan bekerja lebih keras lagi. Seperti, dengan ikut dalam program asuransi kesehatan dan tiap bulan menabung di program pensiun. Cukup gampang khn… Toh, secara konsep sih sama saja. Intinya adalah kita ikut asuransi kesehatan dan program pensiun. Bedanya kalau kita bekerja di perusahaan bonafit, asuransi dan pensiun tadi dibayar oleh perusahaan, nah kalau kita usaha sendiri atau bekerja di perusahaan yang kurang bonafit biasanya asuransi dan pensiun tadi kita yang membayar.

Sekarang kita coba buat hitung-hitungan secara kasar untuk uang pensiunan yang dapat kita terima saat kita sudah memasuki usia pensiun. Asumsi bahwa uang pensiun tadi didapat dari bunga deposito dari program pensiun kita. Sedangkan pokok deposito dapat kita jadikan agunan untuk mendapatkan modal usaha atau untuk warisan anak-anak kita.

Retire Program

Asumsi bahwa kebutuhan standar hidup kita sekarang adalah 2 juta. Nah dengan tidak menurunkan standar hidup pada saat pensiun maka uang yang kita butuhkan setiap bulan adalah 20 juta (naik karena inflasi). Untuk mendapatkan bunga deposito setiap bulan sebesar 20 juta, maka dana tabungan pensiun kita kurang lebih 4 Miliar. Dan untuk mendapatkan uang sebesar 4 miliar tersebut, kita diharuskan menyetorkan uang sebesar 1 juta untuk tiap bulannya dan setoran akan terus naik setiap tahunnya seiring dengan inflasi. Misalkan tahun ini 1 juta, tahun depan kita harus menyetor 1 juta 100 ribu (inflasi 10%) begitu seterusnya sampai 25 tahun.

Bagaimana, anda tertarik dengan mempraktekkannya?

Sukses = 20% IQ + 30% EQ + 50% SQ

Sinau seng rajin yo le, ben pinter. Sesok dadi dokter
“Rajin belajar ya nak, biar pintar. Suatu saat bisa menjadi dokter”
Pasti di masa kecil kita sering mendengar kata-kata tersebut. Dari perkataan di atas dapat dilihat bahwa di masa kecil kecerdasan intelegensia kita sudah dilatih sedemikian rupa (rajin belajar) sehingga dengan harapan suatu hari nanti kesuksesan (menjadi dokter) dapat dicapai. Namun disisi lain, ternyata ada kecerdasan lain yang jauh lebih penting guna menggapai kesuksesan, yaitu kecerdasaan emosional dan spiritual.

Waktu kecil dulu, saya pernah mengikuti tes IQ tatkala masih di sekolah dasar. Saat itu saya masih belum mengerti apa guna tes itu. Yang jelas setelah hasil tes itu dibagikan, teman-teman sering membanding-bandingkan hasilnya dan mengatakan kalau nilainya tinggi berarti cerdas kalau rendah berarti bodoh dan nantinya tidak bisa sukses. Doktrin seorang kawan itu masih saya ingat sampai sekarang. Tapi tentu saja doktrin subyektif dari seorang bocah kelas 4 SD (bisa dibayangkan khn kredibilitasnya).

Seiring dengan waktu, setelah membaca beberapa referensi, saya menyadari bahwa tes IQ yang pernah saya lakukan waktu itu adalah bertujuan untuk mengukur tingkat intelegensia. Pada IQ lebih menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Dalam beberapa penelitian terakhir disimpulkan bahwa IQ bahkan kecerdasan lain sebagian besar dipengaruhi oleh hasil belajar dan sisanya diperoleh dari garis keturunan kita.

Daniel Goleman, di pertengahan dekade 90 an pernah mempoluperkan EQ dan berpendapat bahwa kesuksesan hanya 20% dipengaruhi oleh IQ dan sebagian besar dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Emotional Quotient erat kaitannya dengan perasaan. Salah satu wujud dari kecerdasan emosional adalah aspek empati – kemampuan mengindera perasaan seseorang sebelum yang bersangkutan mengatakannya. Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, dan kecakapan sosial. Ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi antara lain misalnya kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi.

Beberapa tahun belakangan diperkenalkan lagi kecerdasan baru yaitu Spiritual Quotient oleh Danah Zohar. Kalau dengan IQ, kita bekerja dengan mengandalkan indera, kalau EQ kita bekerja dengan menggunakan perasaan sedangkan SQ kita bekerja dengan jiwa “pusat-diri”. Kecerdasan ini lebih pada menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan. Salah satu wujud dari kecerdasan spiritual ini adalah menyadari bahwa Tuhan ada disekeliling kita, Dia melihat kita dan kita merasakan kehadiran Dzat Yang Maha tersebut. Kita dapat melatih kecerdasan spiritual melalui puasa dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelombang otak dari Beta ke Alfa sehingga membuat kita lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Saat itu kita akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, dan mudah merasa terharu.

Kombinasi ketiga kecerdasan di atas dapat menuntun kita untuk meraih kesuksesan baik lahir maupun bathin.

* Tulisan diatas adalah pendapat pribadi yang diambil dari referensi di berbagai media massa